SELAMAT DATANG DI WAJAH KONSELING KREATIF

Kepercayaan Diri

Posted by mohamad awal lakadjo | Posted in | Posted on 05.15

BAB I
PENDAHLUAN
I.            Latar Belakang
Teori Rasional-Emotif (TRE) dikembangkan oleh Albert Ellis, teori ini berlandaskan pada asumsi bahwa manusia dilahirkan memiliki potensi baik untuk berpikir rasional seperti memelihara diri, berpikir positif, berbaur dengan orang lain, tumbuh dan mengaktualisasikan diri, namun juga manusia dapat berperilaku irasional dan buruk seperti kecenderungan menghancurkan diri, berlambat-lambat dalam melaksanakan pekerjaan, menyesali kesalahan yang tak berkesudahan bahkan disfungsional pun ikut ambil andil sebagai tingkah laku yang lama dari individu tersebut mengakibatkan terjadinya sabotase diri.
RE sangat berperan dalam mengatasi masalah-msalah individual maupun kelompok, namun kali ini pengentasan masalah menggunakan Teori Rasional Emotif tertuju pada kepercayaan diri individu setelah mengalami indeks prestasi yang menurun. Sebagaimana yang terjadi pada seorang mahasiswa bernama Musyawal berumur 20 tahun, jurusan bimbingan konseling mengalami kekecewaan yang dialaminya akibat Indeks prestasi yang rendah, nilai semua mata kuliah pada semester 2 rata-rata hanya 1,50, berbuntut pada timbulnya ketidakpercayaan diri, bermalas-malasan, bahkan mengucilkan diri, merasa tidak mampu dalam menyelesaikan semua nilai mata kuliah.
II.          Tujuan Penulisan
Adapun tujuan penulisan adalah :
1.     Agar dapat mengetahui tentang teori konseling yang dipilih dalam menyelesaikan masalah ketidakpercayaan diri.
2.     Agar dapat mengetahui teknik-teknik konseling untuk menyelsaikan masalah yang dialami konsele.
3.     Melihat sejauh mana keefektifan pendekatan Rasional-Emotif dalam menyelesaikan masalah ketidakpercayaan diri.
BAB II
PEMBAHASAN
I.            Masalah yang di Hadapi Konselee
Musyawal yang berumur 20 tahun, ia sering menyalahkan diri yang merupakan inti sebagian besar gangguan emosionalnya, seperti pada Musyawal yang mengalami ketidakpercayaan diri ketika indeks prestasinya menurun secara drastis, yang berakibat pada penyalahan diri secara terus menerus mengganggu pola hidup sehat baik berpikir dan bertindak.
II.          Teori Konseling yang digunakan.
Konseling yang diugunakan adalah Teori Rasional Emotif (TRE), Konseling atau pendekatan ini cukup efektif guna menyelesaikan masalah Musyawal karena pendekatan ini memberikan dorongan  untuk membebaskan diri dari gejala tidak percaya diri, berpikir, beremosi, dan bertindak yang irasional. TRE menunjukkan bagaimana konselee mengembangkan nilai-nilai dan sikap-sikapnya serta menunjukkan serara kognitif bahwa konselee harus lebih rasional dalam melakukan sesuatu. Konselee di tantang untuk mengembangkan filsafat hidup rasioanl agar tidak menjadi korban keyakinan ketidakpercayaan diri.
Kepercayaan diri merupakan salah satu modal hidup utama untuk menjalani kehidupan yang bahagia, dengan modal ini individu mampu berinteraksi dengan lingkungan di mana saja yang ia tempati.
Ada empat implikasi konseling dalam menghadapi konselee yang mengalami ketidakpercayaan diri, yaittu :
1.       Konselee yang tidak percaya diri takut gagal dalam konseling, konselor membantu konselee berpikir konstruktif.
2.       Konselee merendahkan kekuatan dan melebihkan kelemahan, konselor membantu mengembangkan gambaran kekuatan dan kelemahan konselee secara realistik.
3.       Konselee takut tidak sukses dalam setiap usaha, konselor membantu konselee bahwa untuk mencapai sukses terdapat tahapan-tahapan yang didalamnya mengandung serangkaian sukses dan kegagalan yang harus disikapi secara realistik.
4.       Konselor maupun konselee dalam konseling menginginkan sukses dan tidak dihinggapi rasa gagal.
Teori A-B-C Kepribadian juga perlu digunakan dalam masalah ini mengingat manfaatnya sangat besar, karena menduduki posisi sentral dalam praktek konseling RE, yang mana A adalah keberadaan fakta suatu peristiwa, atau perilaku sikap seorang individu. C adalah konsekuensi emosidan perilaku atau reaksi si individu, reaksi itu bisa cocok dan bisa juga tidak. A (peristiwa yang berjalan) tidak menjadi penyebab C (konsekuensi emosi). Melainkan B, yaitu keyakinan si pribadi atas A (peristiwa) yang berakibat pada C (konsekuensi emosi). Seperti yang terjadi pada Musyawal mengalami ketidakpercayaan diri setelah mengetahui indeks prestasinya menurun, namun mungkin bukan hanya itu saja yang mengakibatkan ia tidak percaya diri, tetapi keyakinan bahwa ia tidak akan mampu bersaing lagi dengan teman-teman, merasa bersalah kepada dosen karena tidak dapat menyelesaikan mata kuliah dengan baik. Setelah A, B, dan C maka muncullah D, yang meragukan/membantah, tugas konseling yang dilakukan oleh konselor terletak pada titik ini dengan metode ilmiah untuk menolong konselee menentang keyakinan irasional mereka.
Pengentasan masalah ini pun tentu akan berhasil dengan optimal mankala konselor dan konselee melakukan konseling dengan sungguh-sungguh sehingga ditemukan jalan keluar yang efektif untuk masalah konselee yang bersangkutan.
III.       Teknik-teknik Konseling yang digunakan
TRE memberikan keluasan pada pemraktek untuk menjadi elektik. Teknik TRE yang esensial adalah mengajar secara aktif-direktif, dan TRE juga adalah proses didaktik yang meneankan metode-metode kognitif.

Teknik-Teknik konseling yang digunakan untuk mengatasi masalah tersebut :
1.           Assertive training : yaitu Teknik untuk melatih, mendorong dan membiasakan konselee untuk terus menerus menyesuaikan diri dengan pola perilaku yang diinginkan.
2.           Self modeling: yakni teknik yang digunakan dengan konsele mengadakan komitmen dengan konselor untuk menghilangkan perasaan atau perilaku tertentu. Musyawal di minta untuk tetap menghindarkan dirinya dari perilaku negative yaitu menyalahkan diri sendiri dan menghindari bermalas-malasan.
3.           Counter conditioning : yakni menciptakan suatu kondisi atau situasi tertentu yang secara potensial merupakan penyebab dari munculnya perasaan negative konsele, namun situasi itu memberikan keadaan yang rileks kepada konsele itu sendiri. Musyawal yang tidak percaya diri, maka konselor menciptakan suasana baru pada konsele mengendalikan diri berdasarkan pemikiran-pemikiran rasional bahwa dengan dia berusaha maka dia dapat merubah IP lebih baik di semester-semester berikutnya.
4.           Behavioristik, seperti :
a.            Reinforcement, yakni teknik yang di gunakan untuk mendorong konsele kearah perilaku yang lebih rasional dan logis dengan jalan memberikan sesuatu yang menyenangkan konsele, misalnya Musyawal di beri pujian bahwa dia mampu bersaing dan memiliki potensi lebih di banding teman-temannya.
b.           Social modeling, yakni teknik yang digunakan untuk membantu perilaku-perilaku baru pada konsele. Konselor mencoba bagaimana proses Musyawal mempersepsi, menyesuaikan dirinya dan menginternalisasi norma-norma agar tidak merugikan dirinya sendiri.
5.           Imitasi: yakni teknik  yang digunakan dengan meminta konsele untuk menirukan secara terus menerus suatu model perilaku tertentu dengan maksud melawan perilaku sendiri yang negative.

BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Konseling TRE sangat berguna untuk menyelesaikan masalah ketidakpercayaan diri akibat nilai indeks prestasi rendah, karena konselee di ajak berpikir, beremosi, dan bertindak rasional. Tidak hanya berdiam diri karena merasa tidak percaya diri, dengan adanya tujuan dan fungsi konseling TRE yang jelas maka masalah itu tentu bisa terselesaikan sesuai dengan proseduralnya, yang memilki tahapan-tahapan. RE dapat menciptakan kesehatan mental termasuk keseimbangan emosional pada seseorang terletak pada diri sendiri bukan dari orang lain,menyadarkan diri pada konsele. Teknik-teknik yang digunakan adalah self modeling, imitasi, behavioristik, dan counter conditioning.

Comments (0)

Poskan Komentar