SELAMAT DATANG DI WAJAH KONSELING KREATIF



Video ini di peruntukkan bagi setiap orang yang melihat dan yang ingin tertawa,... jika anda tidak tertawa bukan karena video ini tidak lucu, tapi karena hati anda tidak terbuka dan kurang cerdas untuk memahami



Mengenal Kecerdasan Emosional

0

Posted by mohamad awal lakadjo | Posted in | Posted on 07.04


Pakar dalam Kecerdasan Emosi ini ialah Daniel Goleman. Orang yang gagal dalam hidup bukan karena kecerdasan intelektual yang rendah namun karena kurang memiliki kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi ini merujuk pada kemampuan-kemampuan memahami diri, mengelola emosi, memanfaatkan emosi secara produktif, empati dan membina hubungan.
Ada beberapa unsur Kecerdasan Emosi
1.   Kesadaran diri : mengenal dan merasakan emosi sendiri, memahami faktor penyebab yang timbul, dan mengenal pengaruh perasaan terhadap tindakan
2.   Mengelola emosi : bersikap toleran terhadap frustasi, mampu mengendalikan marah secara lebih, dapat mengendalikan perilaku agresif yang merusak diri sendiri dan orang lain, memiliki kemampuan mengatasi stres, dan dapat mengurangi perasaan kesepian bahkan cemas
3.   Memanfaatkan emosi secara produktif : memiliki rasa tanggungjawab, mampu memusatkan perhatian pada tugas yang dikerjakan, dan tidak bersikap impulsive
4.   Empati : mampu menerima sudut pandang orang lain, memiliki kepekaan terhadap perasaan orang lain, dan mampu mendengarkan orang lain
5.   Membina hubungan : memahmi pentingnya membina hubungan dengan orang lain, dapat menyelesaikan dengan konflik dari orang lain, memiliki kemampun berkomunikasi dengan orang lain, memiliki sikap bersahabat atau mudah bergaul dengan orang lain, memiliki sikap tenggang rasa, memiliki perhatian terhadap kepentingan orang lain, dapat hidup selaras dengan kelompok, bersikap senang berbagi rasa dan bekerjasama, dan bersikap demokratis

MENGALAMI STRES

0

Posted by mohamad awal lakadjo | Posted in | Posted on 02.43



A.   TEORI STRES
Stres merupakan fenomena psikofisik. Steres dialami oleh setiap orang, dengan tidak mengaenal jenis kelamin, usia, kedudukan, jabatan atau status sosial ekonomi. Stres bisa di alami oleh seorang bayi, anak-anak, remaja, atau dewasa; dialami pejabat atau warga masyarakat biasa; dialami oleh pengusaha atau karyawan; dialami guru ataupun siswa; dan dialami oleh pria maupun wanita.
          Stres dapat berpengaruh positif maupun negatif terhadap individu. Pengaruh positif, yaitu mendorong individu untuk melakukan sesuatu, membangkitkan kesadaran, dan menghasilkan pengalaman baru. Sedangkan pengaruh negatif, yaitu menimbulkan perasaan-perasaan tidak pecaya diri, penolakan, marah, atau depresi; dan memicu berjangkitnya sakit kepala, sakit perut, insomnia, tekanan darah tinggi, atau stroke.
          Teori dasar tentang tentang stres dapat disimpulkan ke dalam tiga variabel pokok, yaitu sebagai berikut (Ray Woolfe dan Windy Dryden, 1998: 530-532; James W. Greenwood, III & James W. Greenwood, Jr., 1979: 30) (dalam Yusuf dan Nurihsan, 2006: 250-251).
1)   Variabel Stimulus, atau engineering approach (pendekatan rekayasa) yang mengkonsepsikan stres sebagai suatu stimulus atau tuntutan yang mengancam (berbahya), yaitu tekanan dari luar terhadap individu yang dapat menyebabkan sakit (mengganggu kesehatan). Dalam model ini, stres dapat juga disebabkan oleh stimulus eksternal baik sedikit maupun banyak.
2)   Variabel Respon, atau phsyiological approach (pendekatan fisiologis) yang didasarkan pada model triphase dari Hans Selye. Dia mengembangkan konsep yang lebih spesifik tentang reaksi manusia terhadap stressor, yang dia namakan GAS (General Adaptation Syndrome) yaitu mekanisme respon tipikal tubuh dalam merespon rasa sakit, ancaman atau stressor lainnya. GAS terdiri atas 3 tahap, yaitu: (a) reaksi alarm, yang terjadi ketika organisme merasakan adanya ancaman, yang kemudian meresponnya dengan “fight” atau “flight”. (b) resistance, yang terjadi apabila stres itu berkelanjutan, di sini terjadi fisiologis yang melakukan keseimbangan sebagai upaya mengatasi ancaman dan (c) exhaustion, yang terjadi jika stres terus berkelanjutan di ats periode waktu tertentu, sehingga organisme mengalami sakit (menurut Selye, organisme memiliki keterbatasan untuk melawan (fight stress). Dia mendefinisikan stres sebagai “The state which manifests it self by the GAS”, atau “The nonspecific response of the body to any demand made upon it”. Selanjutnya dia mengemukakan bahwa stres merupakan hal yang esensial bagi kehidupan. Tanpa stres tidak ada kehidupan, namun kegagalan dalam mereaksi stressor merupakan pertanda kematian.
3)   Variabel Interaktif, yaitu yang meliputi dua teori yaitu sebagai berikut.
a.   Teori Interaksional. Teori yang memfokuskan pembahasannya kepada aspek-aspek (1) keterkaitan antara individu dengan lingkungannya, dan (2) hakikat hubungan antara tuntutuan pekerjaan dengan kebebasan mengambil keputusan. Namun penelitian-penelitian terakhir mengindikasikan bahwa terdapat bukti yang lemah yang mendukung hubungan antara tuntutan-tuntutan spesifik dengan sakit.
b.   Teori Transaksional yang memfokuskan pembahasannya kepada aspek-aspek kognitif dan afektif individu dalam berinteraksi dengan lingkungannya, serta gaya-gaya “coping” yang dilakukannya. Salah satu teori yang terkenal dari teori transaksional ini adalah teori dari Lazarus dan Folkman (1984). Mereka mendefinisikan stres sebagai “akibat dari ketidakseimbangan antara tuntutan dan kemampuan.” Pengertian ini mengimplikasikan bahwa apabila tuntuan itu lebih besar dari kemampuan yang dimiliki individu, maka dia akan mengalami stres. Tetapi sebaliknya, apabila kemampuan individu lebih besar dari tuntutan, atau dia memiliki kesanggupan untuk mengatasi ancaman yang dihadapi, maka dia menilai tuntutan atau ancaman itu sebagai tantangan, sehingga tuntutan itu tidak menyebabkan stres.
Terkait dengan variabel respon terhadap stres, Walter Cannon, sekitar tahun 1932 mengemukakan bahwa manusia merespon peristiwa stres dengan fisik maupun psikis untuk mempersiapkan dirinya, apakah melawan/mengatasi atau menghindari/melarikan diri dari stres (fight or flight response). Selanjutnya dia mengatakan bahwa ketika individu mempersespsi adanya ancaman, maka tubuhnya secara cepat mereaksinya melalui sistem syaraf simpatetik dan sistem endoktrin. Respon atau reaksi tubuh itu memobilisasi organisme untuk menyerang atau menghindari ancaman tersebut. Cannon berpendapat bahwa di satu sisi, respon atau reaksi “fight-or-flight” itu merupakan usaha organisme untuk beradapatasi, sebab melalui reaksi itu organisme dapat mereapon ancaman secara cepat. Di dsisi lain, stres itu dapat merugikan organisme, karena menggangu fungsi emosi dan fisik, serta dapat menyebabkan masalah kesehatan setiap saat. Apabila stres tersebut terus menerus terjadi, berarti individu akan mengalami masalah kesehatan selamanya.
Menurut Dadang Hawari (dalam Syamsu dan Nurihsan, 2006: 251-252) stres tidak dapat dipisahkan dari distres dan depresi, karena satu sama lainnya saling terkait. Stres merupakan reaksi fisik terhadap permasalahan kehidupan yang dialaminya. Apabila fungsi organ tubuh sampai terganggu dinamakan distres. Sedangkan depresi merupakan reaksi kejiwaan terhadap stressor yang dialaminya. Dalam banyak hal manusia akan cukup cepat untuk pulih kembali dari pengaruh-pengaruh pengalaman stres. Manusia mempunyai suplai yang baik dan energi penyesuaian diri untuk dipakai dan di isi kembali bilamana perlu.
Dari beberapa pendapat di atas, stres ialah perasaan tidak enak, tidak nyaman, atau tertekan, baik fisik maupin psikis sebagai respon atau reaksi individu terhadap stressor stimulus yang berupa peristiwa, objek, atau orang) yang mengancam, mengganggu, membebani, atau membahayakan keselamatan, kepentingan, keinginan, atau kesejahteraan hidupnya.
Stimulus yang termasuk (a) peristiwa, seperti: ujian/tes bagi para pelajar/mahasiswa, kematian seseorang yang dicintai, banjir dan gempa bumi; (b) objek, seperti: bbinatang buas, peraturan yang berat atau tuntutan pekerjaan/tygas yang di luar kemampuan; dan (c) orang, seperti: sikap dan perlakuan orang tua dan guru yang galak atau kasar, pemimpin yang otoriter, para preman (orang-orang jahat), dan penguasa yang zalim.

B.   GEJALA STRES
Adapaun orang yang mengalami stres dapat di lihat dari gejala-gejala sebagai berikut.
1)   Gejala Fisik, diantaranya: sakit kepala, sakit lambung (mag), hipertensi (darah tinggi), sakit jantung atau jantung berdebar-debar, insomnia (sulit tidur), mudah lelah, keluar keringat dingin, kurang selera makan, dan sering buang air kecil.
2)   Gejal Psikis, diantaranya: gelisah atau cemas, kurang dapat berkonsentrasi belajar atau bekerja, sikap apatis (masa bodoh), sikap pesimis, hilang rasa humor, bungkam seribu bahasa, malas belajar atau bekerja, sering melamun, sering marah-marah atau berskap agresif (baik secara verbal, seperti: kata-kata kasar, dan menghina; maupun non-verbal, seperti: menmpeleng, menendang, membanting pintu, dan memcahkan barang-barang).

C.  Faktor-faktor Pemicu Stres
Faktor-faktor pemicu stres dapat diklasifiaksikan ke dalam beberapa kelompok berikut.
1)   Stressor fisik-biologis, seperti penyakit yang sulit disembuhkan, cacat fisik atau keang berfungsinya salah satu anggota tubuh, dan postur tubuh yang dipersepsi tidak ideal (seperti: terlalu kecil, kurus, pendek atau gemuk).
2)   Stressor Psikologik, seperti: berburuk sangka, frustasi karena gagal memperoleh sesuatu yang diinginkan, hasud (iri hati atau dendam), sikap permusuhan, perasaan cemburu, konflik pribadi, dan keinginan yang di luar keampuan.
3)   Stressor Sosial: (a) iklim kehidupan keluarga, seperti: hubungan antar anggota keluarga yang tidak harmonis (broken home), perceraian, suami atau istri selingku, suami atau istri meninggal, anak yang nakal, sikap dan perlakuan orang tua yang keras, salah seorang anggota keluarga mengidap gangguna jiwa,dan tingkat ekonomi keluarga yang rendah; (b) faktor pekerjaan, sperti: kesulitan mencari pekerjaan, pengangguran, kena PHK, perselisihan denga  atasan; (c) iklim lingkungan, seperti: maraknya kriminalitas, tawuran antar kelompok mahasiswa atau masyarakat, harga kebutuhan pokok mahal, kemacetan lalu lintas, dan kehidupan politik ekonomi yang tidak stabil.

Faktor-faktor yang mengganggu kestabilan (stres) organisme berasala dari dalam maupun dari luar. Faktor yang berasal dari dalam diri oeganisme adalah biologis dan psikologis, sedangkan yang berasal dari luar adalah faktor lingkungan.
1)   Faktor Biologis
Stressor biologis meliputi faktor-faktor genetika, pengalaman hidup, ritme biologis, tidur, postur tubuh, kelelahan, penyakit, dan abnormalitas adapatasi.
a.   Faktor Genetika
Faktor yang berkembang sebelum kelahiran atau komposisi genetika, proses perkembangan dalam kandungan seperti ibu yang mengkonsumsi obat-obatan, alkohol atau makan yang menyebabkan alergi maka akan merusak perkembangan bayi yang sedang di kandung.
b.   Pengalaman Hidup
Pengalaman hidup ialah proses transisi kehidupan individu dari masa ke  masa, masa transisi melahirkan suasana krisis atau stres pada individu.
c.    Tidur (Sleep)
Setiap orang membutuhkan yang namanya tidur, apabila individu mengalami kurang tidur atau tidurnya kurang nyenyak maka akan berakibat kurang baik bagi dirinya, seperti: tidak dapat berkonsentrasi, kurang semangat untuk melakukan aktivitas, mudah tersinggung, mengalami gngguan halusinasi.
d.   Diet
Diet artinya makanan atau vitamin sebagai nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh. Dalam hidup setiap individu membutuhkan nutrisi yang seimbang, kekurangan atau kelebihan nutrisi akan mempengaruhi proses metabolisme tubuh yang normal dan mengganggu kadar gula darah yang normal, sehingga menimbulkan stres.
e.    Postur Tubuh
Postur merupakan fungsi dari kerangka dan perototan tubuh secara keseluruhan. Postur yang kurang sempurna mempunyai pengaruh yang kurang baik kepada suasana pskologis individu dan kemampuan berhubungan sosialnya dengan orang lain.
f.     Kelelahan
Kondisi di mana reseptor sensoris atau motor kehilangan kemampun untuk merespon stimulus.
g.    Penyakit
Semua penyakit mengganggu ritme biologis yang normal dan cenderung melahirkan kelelahan, pola tidur yang tidak teratur, ketegangan otot, dan gangguan lainnya.
h.   Adaptasi yang abnormal
Adaptasi yang abnormal ini dapat melamahkan kemampuan tubuh untuk memberikan respon yang normal terhadap stressor, sehingga tubuh mudah terserang stres.


2.   Faktor Psikologis
Faktor psikologis di duga menjadi pemicu stres, diantaranya sebagai berikut.
a.   Persepsi
Salah satu faktor yang telibat dalam persepsi adalah pancaindera. Ingatan, motivasi, gen keturunan, dan interpretasi dari sinyal yang di terima oleh pancaindra bersatu membentuk persepsi. Jika kita dapat mengendalikan persepsi maka kita memiliki kekuatan mengendalikan sumber stres, karena stres sering muncul atas apa yang kita lihat dan kita dengar.
b.   Perasaan dan Emosi
1.   Kecemasan
Perasan cemas yang berkepanjangan menyebabkan kekhawatiran, ketakutan, dan perilaku stres lainnya.
2.   Rasa bersalah dan khawatir
Rasa bersalah ditandai dengan merasa diri tidak berguna atau erasa diri sebagai orang jahat, rasa cemas juga ditandai dengan adanya pikiran negatif akan sesuatu hal secara berulang dan terus menerus.
3.   Rasa takut
Rasa takut berkaitan denga kejadianyang akan terjadi, ras takut adalah tanggapan terhadap suatu ancaman tertentu, beda denga gelisah yang merupakan tanggapan atas ancaman yang belum menentu kejelasannya. Rasa takut yang tidak terkendali menuju kepada perilaku mengakibatkan stres.
4.   Marah
Marah adalah emosi yang kuat dengan ditandai reaksi sitem syaraf yang akut dan denga adanya sikap melawan baik secara terang-terangan atau tersembunyi. Menahan untuk marah dapat berakibat stres baik pada secara emosi ataupun psikis.
5.   Cemburu
Cemburu me;liputi keinginan untuk menguasai, mengendalikan sebagai rasa kepemilikan. Cemburu dapat menimbilkan rasa cemas, takut, gelisah, atau marah.
6.   Kesedihan dan kedukaan
Kesediahan dan kedukaan dapat menumbuhkan emosi yang dapat menyebabkan stres.
c.    Situasi
Sebuah konsepsi individual tentang sesuatu keadaan atau kondisi di man dia berada pada suatu waktu.
d.   Pengalamn hidup
Setiap kejadian dalam hidup memiliki implikasi psikologis dan mungkin beberapa kejadian dapat menimbulkan stres.
e.    Keputusan hidup
Keputusan hidup memiliki konsekuensi psikologis yang lama yang akan menentukan jalan hidup dan kesehatan mental individu.
f.     Perilaku behaviorsemua output dari setiap tingkatan heirarki dari sistem syaraf, seperti sensasi, perasaan, emosi, kesadaran, penilaian, dsb. Lebih jauh lagi, setiap peilaku di atas dapat menyebabkan stres dan juga dapat merupakan akibat dari stres.

3.   Faktor Lingkungan
a.   Lingkungan Fisik, cuaca, peristiwa alam, gedung tempat kerja tidak nyaman, dll.
b.   Ligkungan biotik, manusia modern cenderung jadi pemangsa, bagi makhluk lainnya
c.    Lingkungan sosial
Kehidupan perkotoran, gaya hidup modern, suasana tempat kerja, iklim kehidupan keluarga.


INVENTORI TUGAS PERKEMBANGAN (ITP)
        Inventori tugas perkembangan adalah instrumen yang digunakan untuk memahami tingkat perkembangan individu. ITP ini dimaksudkan untuk menunjang kegiatan bimbingan dan konseling di sekolah. ITP di susun dalam 4 buku inventori, masing-masing memahami perkembangan peserta didik di tingkat SD, SMP, SMA, dan perguruan tinggi. Tingkatan perkembangan merupakan struktur kontinum perkembangan diri dari yang paling sederhana sampai yang paling kompleks, digunakan untuk mendiskripsikan keberadan individu dalam kontinum perkembangan. Setiap tingkatan di bangun atas dasar tingkatan sebelumnya dan menjadi dasar tingkatan berikutnya. Peningkatan perkembangan sepanjang kontinum perkembangan menggambarkan perbedaan kualitatif tentang cara-cara individu berinteraksi dengan lingkungannya.

Aspek-aspek yang di Ukur
        Dalam ITP, ada 10 aspek yang di ukur untuk siswa SD dan SMP, sementara untuk siswa SMA dan perguruan tinggi ada 11 aspek, yaitu :
1.    Landasan hidup religius
2.    Landasan perilaku etis
3.    Kematangan emosional
4.    Kematangan intelektual
5.    Kesadaran tanggungjawab
6.    Peran sosial sebagai pria atau wanita
7.    Peneriamaan diri dan pengembangannya
8.    Kemandirian perilaku
9.    Wawasan persiapan karir
10. Kematangan hubungan dengan teman sebaya
11. Persiapan diri untuk pernikahan dan hidup berkeluarga

Karakteristik Khas Angket ITP
1.    ITP berbentuk angket terdiri dari kumpulan pernyataan, di mana setiap nomor terdiri dari 4 butir pernyataan yang mengukur satu subaspek.
2.    Tingkat perkembangan siswa dapat di lihat dari skor yang diperoleh pada setiap aspek.
3.    Besar skor yang diperoleh menunjukkan tingkat perkembangan siswa.
4.    Angket ITP untuk setiap tingkat pendidikan memiliki jumlah soal yang berbeda. ITP SD dan ITP SMP memiliki jumlah soal 50, di mana setiap soal memiliki 4 butiran pilihan. Pada proses pengolahan yang di skor hanya 40 soal, sedangkan yang 10 butir soal untuk mengontrol tingkat konsistensi peserta didik dalam menjawab atau mengerjakan ITP. Sedangkan ITP tingkat SMA dan PT memiliki jumlah butir soal 77, di mana setiap butir soal memiliki 4 butir pernyataan piliahn. Pada proses pengolahan yang di skor hanya 66 butir soal, sedangkan yang 11 butir soal lainyya digunakan untuk mengontrol tingkat konsistensi peserta didik dalam menjawab atau mengerjakan ITP.
Kelebihan dan Kekurangan ITP
Kelebihan ITP
1.    Melalaui skor hasil ITP konselor dapat lebih mudah memahami tingkat perkembangan individu.
2.    Alat asesmen yang dapat digunakan sebagai dasar penetapan program bimbinga dan konseling berbasis perkembangan individu.
3.    Pengolahan hasil ITP dapat dilakukan dengan cepat karena dilengkapi dengan program pengolahan ATP berbasis komputer versi 3,5.
Kekurangan ITP
1.    Belum dapat digunakan sebagai alat seleksi, baik untuk menentukan kelulusan maupun untuk penempatan.
2.    Skor ITP belum di uji hubungannya dengan aspek perkembangan atau aspek kepribadian lainnya, sehingga belum dapat digunakan untuk memprediksi aspek kepribadian sacara lengkap.
3.    Penggunaan ITP sebagai dasar pengembangan model bimbingan di perguruan tinggi telah di uji secara empirik. Namun jumlah sekolah uji coba masih terbatas.
4.    Penggunaan ATP untuk kalangan luas masih dalam tahap awal, sehingga masukkan untuk penyempurnaan ITP maupun ATP masih diharapkan dari para pemakai.

Keterandalan Menggunakan ITP
        Sesuai deng apenelitian yang telah dicobakan kepada 336 siswa SD, 323 siswa SMP, 313 siswa SMA, dan 219 mahasiswa. Hasil sementara menunjukkan tingkat rehabilitas dan validitas pada tingkat sedang. Hasil uji coba menunjukkan bahwa makin tinggi konsistensi peserta didik dalam menjawab makin tinggi tingkat reliabilitasnya. Apabila di lihat dari homogenitas peserta didik peserta didik mengerjakan ITP, maka makin homogen reabilitas semakin rendah. Artinya bila ITP diadministrasikan pada kelompok heterogen dan peserta mengerjakan dengan sungguh-sungguh, tingkat reliabilitas ITP akan tinggi.

Peran dan Fungsi Konselor
1.    Perencana, yaitu memulai dari menetapkan tujuan pelaksanaan asesmen, menetapka peserta didik sebagai sasaran asesmen, menyediakan buku dan lembar jawaban ITP sesuai jumlah peserta didik sasaran, dan membuat satuan layanan asesmen ITP.
2.    Pelaksanan, yaitu memberikan verbal setting (menjelaskan tujuan, manfaat, dan kerahasiaan data), memandu peserta didik dalam cara mengerjakan sehingga dapat dipastikan seluruh peserta didik mengisinya dengan benar.
3.    Melakukan pengolahan data kuantitatif mulai dari menghitung hasil dengan menggunakan format yang spesifi, berdasarkan skoor yang diperoleh menetapkan tingkat pencapaian tugas pekembangan, membuat grafik 11 aspek perkembangan, serta membuat deskripsi analisis kualitatif pencapaian tahap perkembangan dan aspek perkembangan dengan merujuk pada pedoman yang ada.
4.    Melakukan tindak lanjut dari hasil asesmen dengan membuat program layanan bimbingan dan konseling yang sesuai denga kebutuhan dan kondisi peserta didik.

Langkah Pengadministrasian
Perencanaan
        Konselor melaksanakan perencanaan seperti
1.    Menetapkan tujuan layanan asesmen.
2.    Menetapkan sasaran dan jumlah sasaran layanan.
3.    Menetapkan waktu dan tempat pelaksanaan asesmen yang memiliki pencahayaan dan sirkulasi udara yang baik.
4.    Penyediaan meja dan kursi yang nyaman untuk mengerjakan asesmen.
5.    Menyiapkan buku ITP dan lembar jawaban ssuai dengan jumlah sasaran yang akan mengikuti asesmen.
Pelaksanaan
1.    Pada pertemuan awal, konselor memberikan verbal setting seperti menjelaskan tujuan, manfaat, dan kerahasiaan.
2.    Siswa dibagikan buku inventori beserta lembar jawaban.
3.    Meminta siswa mengisi identitas pada lembar jawaban.
4.    Konselor membacakan petunjuk pengerjaan, sementara siswa membaca petunjuk yang terdapat dalam buku ITP.
5.    Tanya jawab dan penjelasan lebih lanjut bila ada siswa yang masih belum memahami cara mengerjakan.
6.    Siswa dipersilahkan mengerjakan ITP pada lembar jawaban.
7.    Waktu pengerjaan secukupnya, paling cepat 20 menit dan paling lambat 40 menit, tidak ada yang boleh mengosongkan jawaban.
8.    Selesai mengerjakn, lembar jawaban dan buku inventori dikumpulkan.

Langkah-langkah Pengolahan dan Analisis
Penskoran dan pengolahan
1.    Mengelompokkan jawaban sesuai tingkatan sekolah dengan kunci jawaban yang berbeda.
2.    Menghitung tingkat konsistensi jawaban.
3.    Menghitung skor setiap aspek perkembangan,
4.    Menghitung rata-rata aspek tiap siswa dan rata-rata siswa/kelompok.
5.    Membuat grafik individual dan grafik kelompok.
6.    Interpretasi hasil skor dan grafik.
Perangkat untuk proses pengolahan hasil ITP
1.    Tabel konsistensi.
2.    Tabel kunci jawaban ITP.
3.    Tabel skor dan tingkat perkembangan ITP.

Alamat Blog

0

Posted by mohamad awal lakadjo | Posted in | Posted on 22.27


ALAMAT BLOG KELAS B
ANGKATAN 2010
JURUSAN BIMBINGAN KONSELING
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO
NAMA
ALAMAT BLOG
Mohamad Awal. Lakadjo
Wajahkonselingkreatif.blogspot.com
Asrin Adam
Asrinadam.blogspot.com
Astuti Yusuf
Astutiyusuf.blogspot.com
Nur Uyun Adam
Nuruyunadam.blogspot.com
Rahmawati R. Hanyala
Rahmawatihanyala.blogspot.com
Sri Lian Kasim
Srilainkasim.blogspot.com
Fadlun Poloso
Fadlunpoloso.blogspot.com
Dessy Irawati
Dessyirawatisagita.blogspot.com
Marni Folaimam
Marnifolaimam.blogspot.com
Arminy Damopoli’i
ArminidamopoliiTIBK.blogspot.com
Komarudin Sinen
Lagudygenerasi92.blogspot.com
Nangsih Ardila Mamonto
Nangsih Mamonto.blogspot.com
Rimawati Mahmud
Rimamahmud.blogspot.com
Fitrawati Lawani
Fitrawatilawani.blogspot.com
Ririn Busura
Ririnbusura.blogspot.com
Novi Mardiana Haidari
Novihaidari.blogspot.com
Zumaldan Blongkod
Zumaldanblongkod.blogspot.com
Ahmad Jaiz Tomanyira
Konselingforever.blogspot.com
M. Rais Taher
Muhammadrais9.blogspot.com
Moh. Tani
Mohamadtani.blogspot.com
Anita Dj. Kilo
Anitabimbingankonseling10
Rusaln Lauwo
Gubukkonseling.blogspot.com
Moh. Tri Supardan
Bimbingandankonselingung.blogspot.com
Andri R. Rotinsulu
Newandryrotinsulu.blogspot.com